Senin, 03 Januari 2011

METODE PEMBELAJARAN BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP AL-QUR'AN

PENDAHULUAN

Dalam proses pembelajaran, metode sangat penting untuk diperhatikan oleh setiap pendidik dan institusi pendidikan. Ketepatan dalam menerapkan metode bisa mempercepat proses dan pencapaian tujuan pembelajaran sebagaimana diharapkan. Persepsi seperti itu sudah lazim diperhatikan setiap praktisi pendidikan. Namun demikian di lapangan sering terjadi kendala dalam pelaksanaannya.

Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam penerapan metode pembelajaran yaitu : Pertama; guru kurang terampil dalam memilih dan menggunakan metoda. Kedua; sarana dan prasarana yang kurang mendukung. Ketiga; kondisi lingkungan pendidikan kurang mendukung. Keempat; kebijakan institusi pendidikan yang kurang mendukung kegiatan mengajar dengan menggunakan metode yang variatif.

Ahmad Tafsir menemukan beberapa hal berkenaan kekurangtepatan dalam memilih metode mengajar. Pertama; banyak siswa yang tidak serius, main-main ketika mengikuti materi pelajaran. Kedua; pengajar kurang menguasai materi dan, ketiga; para siswa pada akhirnya akan menganggap remeh mata pelajaran tertentu (1992 : 131).

Realita di lapangan mengindikasikan betapa metode dalam proses belajar dan mengajar mendesak untuk disikapi. Namun demikian perlu disadari bahwa setepat apapun memilih metode, tetap harus didukung dengan penguasaan materi oleh setiap pengajar/guru. Guru, tampaknya menjadi faktor penentu kesuksesan belajar. Selain itu sangat diperlukan kesabaran dan kewibawaan khusus sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi muridnya didiknya.






PEMBAHASAN

1. Pengertian Metode Pembelajaran
1.1. Pengertian metode
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “ Metode” adalah ‘Cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksana kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan”. Seiring dengan itu Mahmud Yunus mengatakan metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu,baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan,maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan yang lainya.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis dan merupakan hasil eksperimen ilmiyah guna mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dari pernyataan itu timbul pula pertanyaan tentang istilah kata yang sama yaitu metodologi. Metodologi adalah ilmu tentang cara atau sampai kepada tujuan.Asmuni syukir menjelaskan, metodologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentanag cara-cara jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efesien. Demikianlah perbedaan yang sangat tipis antara pegertian metode dan metodologi namun harus dapat dibedakan secara jelas.

1.2. Pengertian pembelajaran.
Sebelum kita mehami tentang Pembelajaran ,kita harus memahami dulu apa itu yang namanya belajar. Sebab kata pembelajaran dalam bahasa Indonesia berasal dari kata belajar yang mendapat awalan pe-m dan akhiran an.
Skiner, yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya educational psychology the teaching-learning process, belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya B.F Skimer percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce). Chaplin dalam dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam Rumusan.Rumusan pertama berbunyi belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya menyatakan belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.With dalam bukunya menyatakan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, biasanya sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif. Kedua belajar adalah suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperbuat.
Dari pegertian tentang belajar dapat dipahamai tentang apakah yang dimaksud dengan pembelajaran itu ?.
Pembelajaran adalah penyediaan sistem lingkungan yang mengakibatkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sedangkan yang dimaksud dengan Metode Pembelajaran adalah sebuah metode atau jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu ( khususnya dalam kegiatan proses belajar mengajar) agar kegiatan belajar tersebut berhasil terhadap apa yang diharapkan.

2. Prinsip-prinsip Al-qur’an tentang metode pembelajaran.
Prinsip disebut juga dengan asas atau dasar. Asas adalah kebenaran yang menjadi menjadi pokok dasar berfikir,bertindak dan sebagainya.Dalam hubungannya dengan pendidikan Islam yang bersumber pada alqur’an berarti prinsip disini yang dimaksud adalah dasar pemikiran yang digunakan bersumber dari alqur’an dalam mengaplikasikan metodologi pembelajaran.
Dalam kegiatan proses belajar mengajar ada ungkapan populer bahwa metode jauh lebih penting dari materi. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode. Metode menempati posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran :Tujuan, metode,materi,media dan evaluasi.
Seiring dengan itu guru dituntut agar cermat memilih dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik.
Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode pengajaran : 1). Tujuan Yang hendak dicapai 2).Kemampuan guru3).Anak didik 4).Situasi dan kondisi pengajaran dimana berlangsung 5) Fasilitas yang tersedia 6) Waktu yang tersedia 7).Kebaikan dan kekurangan sebuah Metode.
Alqur’an sebagai pedoman bagi umat Islam yang menjungjung tinggi tentang pendidikan dan pengajaran didalamnya tersirat mengandung dasar-dasar metode pembelajara dan pengajaran bagi kegiatan belajar mengajar.
Diantara metode-metode yang tersirat dalam alqur’an adalah :

1. Metode Pembiasaan.
Dalama Teori perkembangan anak didik dikenal ada teori Konvergensi,dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya dan dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya.Potensi dasar tesebut menjadi penentu tingkah laku. Oleh karena potensi dasar harus diarahkan agar tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi dasar tersebut adalah melalui kebiasaan yang baik.
Aqur’an sebagai sumber ajaran Islam, memuat prinsip-prinsip umum pemakaian metode pembiasaan dalam proses pendidikan. Dalam merubah sebuah prilaku negatif misalnya alquran memakai pendekatan pembiasaan yang dilakukan secara berangsur-anngsur. Kasus pengharaman Khamar, misalnya alqur’an menggunakan beberapa tahap. Tahap pertama ;Sebagai gambaran umum Allah menurunkan ayat yang artinya:
  •      •  •      
“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan”. ( QS Al-nahl [16]:67)

Ayat diatas memberikan penjelasan hanya sebatas tentang manfaat yang dapat diperoleh dari buah korma dan anggur agar mereka merasakan demikian besarnya kemahakuasaan Allah. Ayat ini sama sekali belum menyentuh garis hukum haramnya minuman khamar . Kemudian turun ayat berikut :
           ••                   
“yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.(QS,Albaqarah,219).

Ayat ini mengisaratkan adanya alternatif pilihan yang diberikan Allah antara memilih yang banyak fositifnya dengan lebih banyak negatifnya kebiasaan meminum khamar. Demikian toleranya Alqur’an sesungguhnya dapat menyentuh perasaan dan fikiran setiap orang bahwa kebiasaan meminum khamar dan melakukan perjudian adalah kebiasaan yang seharusnya ditinggalkan, karena asfek negatif yang akan muncul dari perbuatan tersebut lebih banyak dari pada aspek manfaatnya.
Tahap kedua Allah menurunkan ayat yang artinya :
            
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan....( QS. An-nisa[4]:43).

Meminum khamar adalah perbuatan dan kebiasaan yang tidak terpuji. Sebagian diantara kaum muslimin telah menyadari dan membiasakan diri untuk tidak lagi minum yang memabukan.Namun sebagian masih ditemukan sulit untuk merubah kebiasaan tersebut,sampai-sampai mau melaksanakan shalat pun masih melakukan hal itu.
Tahap ketiga, secara tegas melarang untuk meminum khamar,sebagimana ayat berikut :
               
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al-maidah [5]:90)

Oleh karena itu,pendekatan pembiasaan sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai fositif ke dalam diri anak didik baik pada aspek kognitif,afektif dan psikomotorik. Selain itu pendekatan pembiasaan juga dinilai sangat efektif dan efisien dalam mengubah kebiasaan negatif menjadi positif.
Cara Mengaplikasikan metode Pembiasaan:
a. Mulailah sejak dini pembiasaan tersebut. Usia sejak bayi adalah usia yang tepat untuk melakukan kebiasaan.Karena masa ini anak mempunyai rekaman yang cukup kuat dalam menerima pengaruh lingkungan.
b. Pembiasaan itu dilakukan secara kontinyu,teratutr dan terprogram.
c. Pembiasaan hendaknya diawasi secara ketat dan,konsisten dan tegas.
d. Pembiasaan yang awalnya bersipat mekanistis hendaknya berangsur-angsur menjadi kebutuhan.
2. Metode keteladanan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa “keteladanan” asal katanya teladan yaitu perbuatan ata barang yang patut ditiru dan contoh.Oleh karena itu keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru dan dicontoh. Dalam bahasa Arab keteladanan sama dengan kata Uswah. Maksud keteladanan disini adlah keteladanan yang baik yang bisa dicontoh dan dikuti oleh orang lain.
Alqur’an sebagai sumber hukum islam didalamnya tersirat tentang metode mengajar sebagaimana tercantum dalam surat Al-mumtahanah ayat 6 :
               •     
“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. dan barangsiapa yang berpaling, Maka Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.( QS. Al-mumtahanah :6)

Dalam ayat tersebut diperlihatkan kata uswah digandeng dengan kata hasanah ( baik).artinya bahwa Allah mengutus nabi Muhammad ke permukaan bumi adalah sebagai contoh atau teladan yang baik bagi umatnya.Beliau selalu terlebih dahulu mempraktekan semua ajaran yang disampaikan Allah sebelum menyampaikannya kepada umat. Sehingga tidak ada celah bagi orang-orang yang tidak senang untuk membantahaa dan menuduh bahwa rasullallah SAW hanya hanya pandai bicara dan tidak pandai mengamalkan.Praktek uswah ternyata menjadi pemikat bagi umat untuk menjauhi semua larangan yang disampaikan Rasullallah dan mengamalkan semua tuntutan yang diperintahkan rasullallah ,seperti melaksanakan ibadah shalat,puasa nikah dan sebagainya. Persoalan yang timbul adalah masihkah relevan metode keteladanan yang dipraktekan rasullallah sekitar satu setengah abad yang lalu untuk jaman sekarang yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Metode keteladanan sebagai suatu metode digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang baik dan benar. Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan akhlak.
Salah satu contoh pendidikan yang berhasil dengan menggunakan metode keteladanan adalah pendidikan di pondok pesantren.
Imam Bawani menjelaskan faktor pendukung keberhasilan pendidikan dipesantren adalah :
1. Terwujudnya keteladanan kyai. Kelebihan seorang kyai dalam memimpin sebuah pesantren adalah karena ia memiliki pamor atau kelebihan yang baik dan terkenal dimasyarakat luas.
2. Terciptanya hubungan yang harmonis antara seorang kyai dengan kyai lainya,dan hubungan kyai dengan santrinya.Hubungan semacam ini selalu berlandaskan kepada dasar kemanusiaan dan ikatan ukhuwwah antar sesama muslim.
3. Mencuatnya kematangan out put atau lulusan pesantren dalam menjalankan agama di masyarakat.
Untuk menciptakan anak yang saleh pendidik tidak hanya cukup memberikan prinsip saja karena yang lebih penting bagi siswa adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut.Sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan tanpa disertai contoh teladan ia hanya akan menjadi kumpulan resep yang tak bermakna.Sungguh tercela bagi seorang guru yang mengajarkan suatu kebaikan kepada siswanya sedangkan ia sendiri tidak menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari.

3.Metode Pemberian ganjaran
Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan ganjaran adalah Hadiah,. hukuman, balasan. Dari definisi tadi dapat difahami bahwa ganjaran dalam bahasa indonesia dapat dipakai untuk balasan yang baik atau balasan yang tidak baik.
Dalam Bahasa Arab sendiri kata ganjaran tersebut diistilahkan dengan kata tsawab. Kata tersebut bisa berarti pahala, upah atau balasan.Termasuk dalam Al-qur’an pun banyak kata tersebut disebut berulang-ulang yang mengandung kata-kata tsawab salah satunya surat Ali-imran ayat 148 :
           
“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia[236] dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.(QS.Ali-imran:148)

Kata tsawab dalam ayat tersebut identik dengan ganjaran yang baik. Seiring dengan itu kaitanya dengan pendidikan Islam, kata tsawab adalah pemberian ganjaran yang baik terhadap prilaku baik dari anak didik.
Dalam pembahasan yang lebih luas ganjaran bisa dilihat sebagai berikut :
a) ganjaran adalah alat pendidikan prepentif dan refresif yang menyenangkan dan bisa menjadi pendorong atau motifator belajar bagi murid.
b) Ganjaran adalah hadiah atas perilaku baik dari anak didik dalam proses pendidikan.
Cara mengaplikasikan Ganjaran :
Berbagai macam cara mengaplikasikannya antara lain :
a) Pujian yang indah,diberikan agar anak lebih bersemangat dalam belajar.
b) Imbalan materi/hadiah karena tidak sedikit anak-anak yang termotivasi dengan pemberian hadiah.
c) Dengan mendoakan anak tersebut.
d) Tanda-tamda penghargaan,hal ini sekaligus menjadikan kenang-kenangan bagi murid atas prestasi yang diperolehnya.
5. Metode Pemberian hukuman.
Hukuman dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan siksa dan sebagainya yang dikenakan kepada orang orang yang melanggar undang- undang dan sebagainya.
Dalam bahasa Arab hukuman diistilahkan dengan iqab, jaza, uqubah. Kata iqab bisa juga beratri balasan. Begitupun Alqur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, banyak menyebutkan kata-kata tersebut. Salah satunya adalah surat Ali-imran ayat 11 :
                
(keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; Karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. dan Allah sangat keras siksa-Nya.(QS.Ali-imran:11)

Dari ayat diatas kata iqab ditunjukan kepada balasan dosa sebagai akibat dari perbuatan jahat manusia. Dalam hubungannya denga pendidikan islam kata Iqab berarti ;
a) Alat pendidikan preventif dan refresiv yang paling tidsk menyenangkan
b) Imbalan dan dari perbuatan yang tidak baiok dar[i peserta anak didik.
Istilah Iqab sedikit berbeda dengan tarhib,diman iqab telah berbentuk aktivitas dalam memberikan hukuman seperti memukul,menampar,menonjok dan lain-lain. Sementara tarhib adalah berupa ancaman pada anak didik bila ia melakukan suatu tindakan yang menyalahi aturan.
Syarat mengaplikasikan pendekatan pemberian hukuman.
Prinsip pokok dalam mengaplikasikan pemberian hukuman yaitu bahwa hukuman adalah jalan terakhir dan harus dilakukan secara terbatas dan tidak menyakiti anak didik. Tujuan utama dari pendidikan ini adalah untukmeyadarkan peserta didik dari kesalahan-kesalahan yang ia lakukan.
Pemberian juga memiliki beberapa teori diantaranya hukuman alam,ganti rugi,menakut-nakuti dan balas dendam. Oleh karena itu agar pendekatan ini tidak terjalankan dengan leluasa maka setiap pendidik hendaknya memperhatikan sarat-sarat dalam memberikan hukuman :
a. Pemberian hukuman harus tetap dalam jalinan kasih sayang.
b. Harus didasarkan kepada alasan keharusan
c. Harus menimbulkan kesan diahati anak
d. Harus menimbulkan keinsyafan dan penyesalan kepada anak didik.
e. Diikuti denga pemberian maaf dan harapan serta kepercayaan.


5. Metode Ceramah.
Yang dimaksud dengan metode ceramah adalah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa. Ramayulis mengatakan bahwa Metode ceramah adalah penerangan dan penuturan secara lisan guru terhadapmurid-murid di ruang kelas (Zuhairini dan kawan-kawan). Dalam bahasa Inggris Metode Ceramah disebut juga “lecturing method atau telling method”.Metode ini adalah metode yang serind digunakan,karena metode ini sangat mudah untuk digunakan.
Pada zaman Rasullah Muhammad SAW metode ceramah merupakan metode yang paling awal digunakan.Karakteristik metode ini peranan guru sangat menonjol sementara siswa lebih banyak pasif dan menerima apa yang disampaikan guru.Sementara ayat alquran yang mempenyai hubungan dengan metode ini adalah surat Yusuf ayat 2 :
      
“ Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” .(Q.S. Yusuf :2)

Ayat diatas menerangkan bahwa tuhan menurunkan Al-quran dalam bahasa Arab dan menyampaikanya kepada nabi Muhammad SAW dengan bahasa tersbut. Begiti juga ketika nabi menyampaikan pesan dakwahnya menggunakan media bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut. Dengan perantaraan bahasa ini pesan-pesan tersebut dapat ditangkap karena lebih dominan pengucapan dari pada aksi.
Metode ceramah paling sering dilakukan dalam kegiatan belajar namun metode ini mempunyai banyak kekurangan diantaranya:
1.Interaksi bersifat centred (berpusat pada guru)
2.Kurang banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan massalah
3.dan kurang mengembangkan kecakapan kepada siswa..
6. Metode Tanya Jawab.
Metode Tanya Jawab adalah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan kepada murid atau metode guru bertanya siswa menjawab. Pengerttian lain dari metode ini adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru kepada muridnya atau sebaliknya.
Dalam sejarah perkembangan Islam sangat dikenal penggunaan metode ini. Metode ini sering dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam mengajarkan ajaran Islam. Metode ini merupakan metode yang paling tua digunakan.Ayat Alqur’an yang memuat metode ini adalah
         
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-nahl :43)
Dalam penggunaan metode ini tentunya ada kelebihan dan kekuranganya disini peran guru harus benar-benar memperhatikan kesesuaian materi pelajaran denganmetode yang digunakan.Dalam menggunakan metode ini ada beberapa halyang harusdiperhatikan pertama jenis pertanyaan kedua tehnik mengajukan pertanyaan dan ketiga memperhatikan syarat-syarat penggunaan metode tanya jawab dan juga harus didasari oleh prinsipp kebebasan,prinsip keserasian,prinsip integrasi dan prinsip individual.
1.3. Perbedaan antara Metode Pembelajara dengan Media Pembelajaran.
Metode adalah ‘Cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksana kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan”. Metode adalah jalan yang hendak ditempuh oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu,baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan,maupun dalam kupasan ilmu pengetahuan dan yang lainya.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa metode mengandung arti adanya urutan kerja yang terencana, sistematis dan merupakan hasil eksperimen ilmiyah guna mencapai tujuan yang telah direncanakan. Dari pernyataan itu timbul pula pertanyaan tentang istilah kata yang sama yaitu metodologi. Metodologi adalah ilmu tentang cara atau sampai kepada tujuan.Asmuni syukir menjelaskan, metodologi adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari tentanag cara-cara jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efesien. Demikianlah perbedaan yang sangat tipis antara pegertian metode dan metodologi namun harus dapat dibedakan secara jelas.
Media berasal dari bahasa latin bentuk jamak dari medium yang secara harpiah berarti Perantara atau pengantar. Jadi media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. (Ariep S Sadiman 1990). Media Pembelajaran adalah alat atau sarana yang dapat membantu PBM atau menetapkan alat penilaian yang paling tepat untuk menilai sasaran (anak didik) tersebut. Alat bantu tersebut berupa Visual, gambar, model,objek dan alat-alat bantu lain dari kemajuan teknologi sekarang ini.

KESIMPULAN

Materi pendidikan dan metoda yang digunakan dalam proses kependidikan tidak boleh dipandang enteng. Materi pendidikan yang kurang tepat akan berakibat gagalnya pencapaian tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan. Demikian pula, tidak tepatnya metoda yang digunakan dalam proses kependidikan akan membawa dampak kerugian serius bagi tercapainya tujuan sebagai standar optimal.
Pandangan hidup Islam telah didefinisikan di dalam Al-Qur’an, maka dasar-dasar teori pendidikan Islam khususnya tentang penggunaan metode pun tersirat dalam Al-Qur’an. Materi pendidikan ilmu pengetahuan boleh jadi tidak dibedakan antara atitud-atitud tertentu harus disesuaikan dengan hal-hal yang membedakan satu masyarakat dengan masyarakat lain, tergantung atas nilai-nilai yang ada dan kepercayaan masyarakat setempat..
Alqur’an sebagai pedoman bagi umat Islam yang menjungjung tinggi tentang pendidikan dan pengajaran didalamnya tersirat mengandung dasar-dasar metode pembelajara dan pengajaran bagi kegiatan belajar mengajar.
Diantara metode-metode yang tersirat dalam alqur’an adalah metode pembiasaan, metode keteladanan, metode pemberian ganjaraan, metode pemberian hukuman, metode ceramah, metode tanya Jawab




DAPTAR PUSTAKA

Departemen agama ,Alquran dan terjemahanya. Asyipa, Semarang, 1999.
Arief S. Sadiman, Media Pendidikan (Pengertian ,Pengembangan dan Pemanfaatanya) CV Rajawali ,Jakarta,1990
A. Tafsir, Metodologi Pengajaran agama Islam, Rosda Karya Bandung,1995.
------------, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Rosda Karya,1995
Abdulrahman Saleh Abdullah, Teori pendidikan berdasarkan Al-qur,an, PT Rinekacipta, 1994
Depdikbud, Kamus Besar bahasa Indonesia, Balai Pustaka,1995.
Ramayulis, Metodologi Pengajaran agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 1990.
Zakiayah Darajat,Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Bumi aksara, Jakarta, 1995.
Abdullrahman an nahlawi ,Pendidkan Islam dirumah, sekolah dan masyarakat, Gema Insan Pres, 1994.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar