Rabu, 21 Juli 2010

Pemikiran Pembaharuan Nurcholis Madjid

I.PENDAHULUAN
Nurcholis Madjid yang lebih akrab dipanggil Cak Nur adalah sosok pemikir muslim Indonesia yang ide-idenya sangat kontropersial pada masa itu, termasuk dalam masalah pendidikan. Pendidikan Magister dan Doktornya beliau selesaikan di Barat. Karena itu sangat wajar jika ide-ide pembaharuan yang dilontarkanyanya tersebut banyak dipertanyakan oleh pemikir-pemikir muslim di Indonesia lainnya.
Gerakan pembaharuan yang di sampaikan Nurcholis madjid sekalipun mendapat simpati tetapi tidak sedikit pemikir-pemikir muslim lainya mengadakan perlawanan terhadap gagasan yang disampaikanya. Ia telah menjadi sekularitas, bahkan dalam kritikan yang pedas mereka memposisikan Nurcholis madjid sebagai agen Yahudi dan Nasrani. Istilah ini dilontarkan ketika beliau menggagas persoalan ke-Imanan dan pentingnya titik persamaan dalam berbagai agama yang ada di Indonesia.
Gagasan pembaharuan yang dilontarkan beliau jika dilihat kebelakang memang sangat kontroversial, misalnya ketika ia mempersoalkan pentingnya sekularisasi bagi umat Islam Indonesia.Tentunya ini sangat mengagetkan pembaharu lainya ketika sedang asyik mendorong lahirnya Masyumi, partai Islam yang digugurkan Sukarno. Gagasan sekularisasi nampaknya menjadi dasar dari segala ide pembaharuan Nurcholis Madjid. Hampir dapat dipastikan seluruh gagasanya berakar pada konsep ini. Dari sekularisasi ini muncul ide tentang bagaimana hubungan antara Islam dan poloitik,bagaimana esensi ajaran Islam, dan bagaimana mestinya umat Islam memposisikan agama lain dihadapan agama Islam. Barangkali ini yang sangat berbeda dari bentuk pembaharuan Nurcholish Madjid adalah idenya tentang pentingnya mencari titik temu antara semua agama.
Gagasan sekularisasi juga muncul dalam bidang pendidikan. Bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang ada dibarat selama ini harus diakui telah ditransmisikan oleh Islam. Ia selalu menggambarkan bagaimana cara orientalis sendiri seperti robert N. Bellah menggambarkan bahwa , jika tidak pernah ada umat Islam di muka bumi ini ,maka besar kemungkinan Ilmu Pengetahuan yang selama ini berkembang tidak akan pernah ada, atau kalau umat Islam konsisten dengan gaya dan perilaku leluhurnya,maka umat manusia saat ini akan lebih menikmati ilmu pengetahuan,tetapi sayang umat Islam sendiri tidak konsisten dalam memegang leluhurnya. Karena itu beliau sangat kaget ketika masih ada pemikiran bahwa belajar di dunia Barat yang Kristiani itu dilarang, padahal dalam berbagai hal Barat lebih unggul dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dibanding dengan dunia timur tengah.
Dalam sebuah ceramahnya, Ia memfokuskan pembahasannya pada apa yang disebut sebagai “ faham apologetik” khususnya konsep “Negara Islam”. Konsep tersebut malah tidak meredam masalah, justru menimbulkan polemik baru yang berkepanjangan,salahsatunya dari HM Rasjidi (HM, Rasjidi,1994 :163). Yang mengambil kesimpulan simplitis, bahwa Nurcholis telah mendakwa apologetik terhadap orang yang telah melakukan dakwah Islamiyah serta mendudukan dirinya sebagai pembaharuaan. Tetapi diskursus ini terus bergulir terutama dilingkungan HMI (KAHMI). Sehingga gagasanya itu menjadi sebuah pembaruan yang memeliki tipologi sendiri.
Diakui atau tidak ,cakrawala pemikiran beliau telah meresapi pemikiran ke Islaman di Indonesia yang dulunya diaanggap ganjil sekarang perlahan-perlahan dipakai umat Islam termasuk dalam masalah Pendidikan Islam di Indonesia. Gagasannya terus melaju bagaikan bola salju serta mendapat respon fositif dikalangan anak muda dilingkungan mahasiswa IAIN dimana ia menjadi staf pengajarnya.
Konsep-konsep yang ditelorkan beliau itu kiranya perlu diteliti dan dikaji pada masa sekarang ini. Untuk menegetahui ide –idenya yang brilian dan pengaruh pemikiranya pada masa sekarang. Kiranya itulah hal yang menarik dalam penulisan makalah ini untuk mengungkap keberadaan beliau dari sisi riwayat hidupnya, konsep-konsep pemikiranya, serta karya –karya beliau semasa hidupnya.

II.TELAAH PUSTAKA.
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting bagi manusia.Dengan didik manusia mampu merubah dirinya dan alam ini. Proses mendidik dan di didik tujuan akhir dari kergiatan tersebut adalah mencapai perubahan.
Menurut Hamdan Ali (1987:192) yang dimaksud perubahan disini berarti perkembangan yang diharapkan bisa mengarah kepada kebaiakan dan perbaikan.Akan tetapi perubahan itu kerap kali menimbulkan banyak sekali problematika di belakangnya.Diantara problematika yang muncul sekarang ini adalah begitu cepatnya informasi, sehingga berbagai informasi baru dan berita-berita terkini yang berada dibelahan dunia sana dengan cepat bisa diakses. Tentu dengan sangat mudahnya informasi tersebut tidak hanya banyak memberikan nilai fositif dalam dunia pendidikan tetapi juga membawa dampak negatif. Diantara dampak negatif yang timbul sekarang ini khususnya dalam dunia pendidikan terkesan bahwa pengajaran –pengajaran tersebut hanya untuk mencapai tujuan tujuan materialistik dengan mengenyampingkan aspek nilai rububiyah (ketuhanan).Termasuk kemunduran umat Islam (yang pernah mencapai jaman Keemasan), Umat islam tidak konsekwen terhadap ajarannya.Padahal Islam sendiri telah mengibarkan bendera yang tinggi ketika Islam mencapai puncaknya dalam perkembangan ilmu pengetahuan yaitu pada abad ke 6 sampai abad ke 12 masehi.
Upaya-upaya membangun kembali sains telah dicoba dimulai melalui upaya-upaya “islamisasi sains” oleh Sir Naquib All atas pada awal 1970-an, dan diwujudkan dalam sebuah institusi pendidikan, yaitu Universita Islam Internasional di Kuala Lumpur pada awal tahun 1980-an yang disponsori oleh Organisasi Konferensi Islam. Pada hakekatnya ide Islamization of knowledge ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Islam di zaman modern ini. Ide tersebut telah diproklamirkan sejak tahun 1981, yang sebelumnya sempat digulirkan di Mekkah sekitar tahun 1970-an.
Ungkapan Islamisasi ilmu pengetahuan pada awalnya dicetuskan oleh Syed Muhammad Naguib Al-Atas pada tabun 1397 H/1977 M yang menurutnya adalah "desekuralisasi ilmu". Sebelumnya Al-Faruqi mengintrodisir suatu tulisan mengenai Islamisasi ilm-ilmu sosial. Meskipun demikian, gagasan ilmu keislaman telah muncul sebelumnya dalam karya-karya Sayyid Hossein Nasr. Dalam hal ini Nasr mengkritik epistemologi yang ada di Barat (sains moderen) dan menampilkan epistemologi prespektif sufi.
Menurut AI-Faruqi Islamisasi ilmu pengetahuan berarti mengislamkan ilmu pengetahuan moderen dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti alam dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, dalam strateginya, dalam apa yang dikatakan sebagai data-datanya, dan problem-problemnya. Seluruh disiplin harus dituangkan kembali sehingga mengungkapkan relevensi Islam sepanjang ketiga sumbu Tauhid yaitu, kesatuan pengetahuan, hidup dan kesatuan sejarah. Hingga sejauh ini kategori-kategori metodologi Islam yaitu ketunggalan umat manusia, ketunggalan umat manusia dan penciptaan alam semesta kepada manusia dan ketundukan manusia kepada Tuhan, harus mengganti kategori-kategori Barat dengan menentukan presepsi dan susunan realita .
Pemikiran - pemikiran yang digambarkan diatas, Nurcholish madjid merasa sangat perlu untuk dengan segera melakukan rekonstruksi pemahaman umat Islam di Indonesia, agar jangan sampai hal-hal yang bersifat propan dicampuradukan dengan hal-hal yang bersifat eskatologis. Dengan konsepnya yang monotheisme murni ia merekonstruksi sebuah pemahaman bahwa ada hal-hal yang harus diselesaikan secara duniawi tidak mesti dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang berbau akhirat. Mengenai pandangannya tentang pentingnya melihat yang prophan itu propan, dan ukhrowi itu ukhrowi. Ia menjelaskan bahwa yang ukrowi itu sudah mutlak sedangkan yang propan itu kebenaranya relatif.
III..PEMBAHASAAN
1.Riwayat hidup dan Pendidikan Nurcholis Madjid
Nurcholis Madjid berasal dari keluarga yang sederhana, tetapi memiliki sikap dan wawasan keagamaan yang kuat. Beliau dilahirkan di Mojoanyar, Jombang tanggal 17 Maret 1039. Sejak kecil ia tinggal di pesantren yang dekat dengan rumahnya. Setelah menginjak dewasa ia melanjutkan pendidikan Pesantrennya di Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan agamanya di Gontor. Pendidikan formal perguruan tinggi ia peroleh di IAIN Jakarta pada Fakultas adab lulus tahun 1968. Setelah lulus IAIN ia mengabdikan dirinya di Perguruan Tinggi tersebut selama sepuluh tahun.
Pada tahun 1978 ia di kirim ke Amerika serikat untuk meneruskan pendidikan Magister dan Doktor di Universitas Of Chicago yang selesai pada tahun 1984 (ahmad Tafsir,1994). Semula ia belajar di jurusan ilmu politik tetapi karena ketidakmampuanya belajar pada disiplin ilmu tersebut maka ia pindah jurusan ke sejarah peradaban Islam. Teman –teman beliau dalam menimba ilmu disana adalah M.Amin rais, Syafi’i Ma’ arif , dan Deliar Noor.
2. Pengalaman Organisasi dan karya-karyanya.
Tidak ada data yang jelas menyebutkan aktifitas Nurcholish Madjid sebelum memasuki Institut Islam Negeri (IAIN) Jakarta. Tetapi setelah Ia memasuki perguruan Tinggi tersebut namanya sangat melejit di lingkungan kampus. Tidak hanya itu beliau juga terkenal dipentas Nasional. Ia menjabat dua kali sebagai pengurus besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yaitu tahun 1966 sampai 1969 dan pada tahun 1971. Pada Tahun tahun tersebut beliau menjadi Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara. Selain itu juga beliau ditunjuk sebagai asisten Sekretaris Jendral Internasianal Islamic Federation Of Student Organisation (IIPSO)
Karya –karya Nurcholis Madjid cukup banyak baik dalam bentuk tulisan lepas media masa, Jurnal Ilmiah, dan bahkan yang diedit menjadi beberapa kumpulan buku. Judul buku-buku yang berhasil beliau tulis adalah sebagai berikut :
1. What Moderns in Indonesia (1979).
2. Islam in Indonesia : Challengus and Appourtunities, Islam in the contemporary world (1980).
3. Pikiran – pikiran Nurcholis Madjid Muda, Islam kerakyatan dan ke Indonesiaan (1994).
4. Islam ke Moderenan dan keIndonesiaan (1989).
5. Kontekstualisasi doktirn Islam dalam sejarah. (1992).
6. Khazanah Intelektual Islam. (1984).
7. Islam Doktrin dan Peradaban (1993).
8. Pintu – pintu menuju tuhan (1995).
9. Islam Agama kemanusiaan (1995).
10. Kaki Langit Peradaban (1997).
11. Tradisi Islam (1997).
12. Masyarakat Religius (1997).
3. Ide –ide Pemikiran Nurcholish Madjid .
A. Sekularisasi dalam bidang Agama
Kondisi umat Islam Indonesia di tahun 70 –an sangat jauh berbeda dengan masa kini. Umat Islam pada tahun-tahun tersebut sangat ekslusiv dan cenderung terperangkap kepada kungkungan adat dan tradisi yang dianggap sebuah ajaran agama. Inilah kiranya yang membuat lahirnya konsep sekularisasi menurut Nuscholis Madjid.
Umat Islam masih mencampur adukan tradisi dengan ajaran agama. Misalnya sering kali beranggapan bahwa memakai kain sarung yang sebenarnya hanya tradisi masyarakat Thailand dianggap sebagai sebuah ajaran agama Islam, atau memakai kopiah itu ajaran Islam, sehingga jika ada orang yang tidak pakai sarung tidak dianggap sebagai muslim sejati. Dalam kondisis tertentu umat Islam juga Picik menganggap umat lain adalah sebagai lawan, baik secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Bahkan sering kali perbedaan idiologi keagamaan umat Islam mengasingkan diri dari perbenturan dengan komunitas lainnya. Padahal Islam itu adalah sikap pasrah pada tuhan dengan penuh kedamaian karena tulus dan ikhlas. Disertai perbuatan baik kepada sesama sebagai kelanjutannya adalah pangkal kesejahteraan di dunia dan akhirat.
Agama atau sifat keagamaan yang benar (diterima tuhan) ialah sikap pasrah pada tuhan “ sesungguhnya agama bagi allah ialah sikap pasrah kepada-Nya ( al-Islam). (QS Al-Imran / 3 :19). Perkataan Al-Islam dalam firman ini dapat diartikan sebagai agama Islam yaitu agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.Pengertian seperti ini tentu saja benar, dalam maknanya bahwa memang ajaran atau agama yang di bawa Muhammad adalah agama pasrah kepada tuhan (Islam ) for exceellence. Tetapi dapat juga diartikan secara lebih umum yaitu menurut makna asal atau generiknya “pasrah pada tuhan adalah merupakan semangat semua agama yang benar”. Inilah dasar pokok Al-qur’an yang mengatakkan bahwa semua agama yang benar adalah Islam, dalam arti semuanya mengajarkan pasrah kepada tuhan.
Dasar pemikiran yang digambarkan diatas, kiranya Nurcholish madjid merasa sangat perlu untuk dengan segera melakukan rekonstruksi pemahaman umat Islam, agar jangan sampai hal-hal yang bersifat propan dicampuradukan dengan hal-hal yang bersifat eskatologis. Dengan konsepnya yang monotheisme murni ia merekonstruksi sebuah pemahaman bahwa ada hal-hal yang harus diselesaikan secara duniawi tidak mesti dikaitkan dengan persoalan-persoalan yang berbau akhirat. Mengenai pandangannya tentang pentingnya melihat yang prophan itu propan, dan ukhrowi itu ukhrowi. Ia menjelaskan bahwa yang ukrowi itu sudah mutlak sedangkan yang propan itu kebenaranya relatif.
Nurcholis Madjid dituduh sebagai salah seorang yang telah terpengaruh pemikiranya oleh pemikiran Barat. Sebab dalam anggapan mereka sekularisasi sangat sulit dipisahkan dari sejarah kemajuan bangsa Barat. Memang betul beliau telah menjelaskan secara gamblang tentang apa yang dimaksud dengan sekularisasi dan perbedaanya dengan sekularisme. Tetapi dalam anggapan mereka sangat sulit untuk membedakan antara sekularisasi dengan sekularisme. Sekularisasi tanpa sekularisme adalah sesuatu yang mustahil.
Gugatan atas pemikiran Nurcholis Madjid yang berkenaan dengan sekularisasi menimbulkan kekhawatiran yang cukup besar, sebab jika betul sekularisasi tidak dapat dipisahkan dari sekularisme, maka hal ini akan mengikis fungsi-fungsi agama dalam berbagai segi kehidupan.

B.Sekularisasi dalam bidang pendidikan.
Gagasan sekularisasi Nurcholis madjid terrnyata merambat ke masalah pendidikan.Tetapi tampaknya apa yang disebut dengan sekularisasi dalam bidang pendidikan menurut beliau tidak lebih dari reaktualisasi sejarah peradaban umat islam yang pernah mengalami supremasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban di Cordova dan Mesir pada abad ke 8 sampai dengan 13 M.
Pemikiran reaktualisasi ini dapat di ketahui dalam berbagai pendapatnya. Ia selalu menekankan dan mencontohkan bahwa umat Islam Klasik ada peradaban lain. Selain itu perkembangan Ilmu Pengetahuan yang ada di Barat selama ini harus diakui telah ditransmisikan oleh Islam.Ia selalu menggambarkan bagaimana para orientalis sendiri seperti Robert N Bellah menggambarkan bahwa jika tidak pernah ada umat Islam di muka bumi ini ,maka besar kemungkinan ilmu pengetahuan yang selama ini berkembang tidak akan pernah ada atau kalau uamt Islam konsisten dengan gaya perilakuleluhurnya maka umat Islam saat ini akan lebih menikmati ilmu pengetahuan, tetapi sayang umat Islam sendiri tidak konsisten dalam memegang leluhurnya seperti yang dungkapkan oleh Robert N Bellah,1993. Karena itu Nurcholish Madjid sangat kaget ketika masih ada pemikiran bahwa belajar di dunia barat yang keristiani itu dilarang padahal dalam berbagai hal barat lebih unggul dari timur Tengah.
Kekagetan Nurcholish Madjid ini nampaknya yang mendorong suatu pemikiran bahwa, perlu diadakan pembaharuan dalam bidang pendidikan termasuk dalam masalah dunia. karena itu secara metodologis tidak menjadi persoalan apakah dari Barat atau Timur. Dunia Islam saat ini menjadi tertinggal dibandingkan dengan negara lain, baik oleh Barat yang Kristen ,Israil dan Amerika, Yahudi, Cina, dan Korea Selatan yang menganut Konfusionisme. Jepang yang menganut Budhis – Taosme bahkan oleh India pun yang menganut hindu budha dan Islam pada umumnya jauh tertinggal, praktis tidak ada satupun agama yang besar didunia ini yang lebih rendah Ilmu Pengetahauan dan peradabanya dari dunia Islam. Dalam konteks ini termasuk juga Indonesia, padahal seharusnya kondisi ini tidak seharusnya terjadi kalau saja umat Islam mampu menangkap kembali ajaranya yang lebih dinamis sekaligus lebih otentik.
Nurcholisah madjid menganggap bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan bagian organik peradaban Islam klasik ,sekalipun memang belum mencapai kecangihan seperti yang terjadi di abad modern, namun etos dan semangatnya adalah sama, dan sangat jelas dapat dilihat dari persambungannya dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern.
Dalam kondisi umat Islam yang tertinggal jauh dengan Barat itu, menurut beliau sangat ironis lagi terjadi pada dunia islam khususnya negara Indonesia terjadi kesenjangan intelektual dan kultural. Indonesia secara intelektual dan kultural tertinggal dengan dunia Islam lainya, dibanding dengan dunia Islam Timur tengah. Beliau memahami betul keterbelakangan tersebut dikarenakan Islam masuk ke Indonesia agak sedikit terlambat. Sehingga secara kultural dan ilmu pengetahuan mereka tertinggal. Selain itu Islam masuk ke Indonesia tidak secara langsung oleh bangsa Arab.
Cara ajaran Islam disebarkan di Nusantara pun memiliki cara tersendiri. Islam lebih ditransmisikan dengan pendekatan kebudayaan setempat, bahkan segera metodologis Islam dikerjakan dengan metode yang sudah ada di Nusantara. Seperti melalui penayangan wayang dalam bentuk kolosal, atau mengunakan pendekatan pendidikan pesantren yang sekarang tumbuh di Indonesia, sehingga yang terjadi , umat Islam di saaat beliau mengeluarkan pendapatnya ini menganggap bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam. Padahal seperti yang di ungkapkan oleh Martin Van B. Pendidikan Pesantren adalah pendidikan yang secara metodologis persis sama sengan pendidikan yang diselenggarakan oleh Hindu dan Budha dalam mengajarakan ajaran agamanya. Dan yang sebenarnya menurut beliau sistem pendididkan formal-lah yang berasal dari Islam yang diadopsi oleh orang Barat. Karena itu sangat wajar jika beliau memandang perlu adanya reaktualisasi doktrin dan sejarah Peradaban Islam.
Sejarah mencatat bahwa, umat Islam lah yang pertama kali menginternasionalkan Ilmu Pengetahuan. Jika sebelumnya Ilmu Pengetahuan hanya merupakan kekayaan Nasional bangsa tertentu seperti Yunani, Persia dan China, Maka sejak Islam dan peradaban Islam, Ilmu menjadi tumbuh kekayaan bersama umat manusia.
Dalam analisa penulis beliau sangat sadar kalau umat Islam pernah mengalami supremasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban , karena itu sangat kaget dan sekaligus opsesip untuk mebangkitkan kejayaan umat Islam dengan cara pembaharuan dalam bidang metodologi pendidikan pesantren. Pesantren menggunakan ketentuan kharismatik guru, sehiga terkesan santri terkungkung oleh sistem. Kondisi ini terjadi dilembaga pendididkan Islam di Indonesia.
Ia menganjurkan siswa jangan hanya diciptakan menjadi anak yang patuh, tunduk dan taat, tetapi harus dicari formulasi apa yang dapat di gunakan sehingga siswa atau anak dididik menjadi kritis. Lebih lanjut konkritnya lagi, Ia mengaharapkan Institut agama Islam Negeri (IAIN) sebagai suatu lembaga yang “ memproduksi calon ulama “ agar mendidik mahasiswanya yang kritis.
Nurcholish Madjid bercita-cita ingn menciptakan masyarakat Islam yang terbuka, Ia selalau menyatakan, mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru, yang lebih baik adalah sebuah grands concept yang harus dimiliki umat Islam. Karena itu, belajar kebarat dan atau mengambil metodologi barat tidak secara otomatis dikatakan salah. khususnya apa yang dikatakan pendidikan Islam merupakan usaha sadar dalam rangka mengupayakan manusia anak didik menjadi manusia dewasa yang bertanggunga jawab serta mampu merepleksikan diri sebagai Kholifatuullah.
C.Kalimatun Sawa.
Nurcholis Madjid selain merefleksikan pemikiranya tentang sekularisasi, ia juga telah merefleksikan pemikiranya tentang pentingnya mencari titik temu antar berbagai agama samawi khususnya dan semua agama yang ada di Indonesia pada umumnya. Ia membawa pendekatanya ini pada filsafat perenial yang salah satunya berusaha menelusuri akar-akar kesadaran religiusitas seseorang atau kelompok melalui simbol, ritus –ritus serta pengalaman keberagamaan, atau lebih tepatnya mencari transendental.
Beliau menggambarkan bahwa bertauhid merupakan pembawaan yang bersifat alamiah atau naluri kesucian manusia sejalan dengan fitrahnya dari Allah. Manusia menurutnya memiliki ikatan Penyajian primordial bahwa mereka akan menyembah tuhan saja dan tidak tunduk kepada dorongan kejahatan,dengan kata lain dengan bertauhid manusia akan bertindak sejalan dengan tuntutan kesuciannya yaitu menjadi dirinya sebagai hamba Allah yang hanya menyembah satu Allah, termanifestasi dalam bentuk kalimah Thoyyibah, .
Pandangan beliau ini didasarkan kepada pemahaman bahwa : “manusia mempunyai akar-akarnya dalam setiap segi ajaran agama. Islam sendiri adalah agama kemanusiaan yang universal, dalam arti bahwa ajaran-ajaranya akan senantiasa sama dengan fitrah umat manusia”. Perbedaan ritus keagamaan atau simbol-simbol keagamaan merupakan fitrah Tuhan yang ferenial (abadi), karena itu manusia akan tetap selalu berbeda sepanjang sejarah kemanusiaan, semata-mata tidak dapat dibayangkan bahwa umat manusia satu sepanjang masa. Jika perbedaan –perbedaan antar agama telah memperbesar klaim kemutlakan kebenaran ,maka apakah pencarian titik temu antar berbagai agama khususnya yang menyangkut masalah lahiriyah tidak dibenarkan ?, nampaknya atas dasar persamaaanlah kehidupan yang bersifat toleransi dapat diwujudkan.
Islam bukanlah agama formal belaka,bahkan dalam pengertian tertentu Islam dapat diartikan secara universal sebagai bentuk kepasrahan kepada peraturan dan hukum-hukum tuhan. Pemahaman konsep ini akan membuka rasa saling menghormati pandangan yang berbeda, tidak hanya dalam pandangan relatifisme internal dikalangan umat Isla tetapi juga harus dikembangkan sikap saling menghargai antar sesama umat manusia yang berbeda idieologi dan sistem keagamaan atau dengan kata lain menghormati keyakinan yang dianggap final oleh uma yang lain. Kitab suci umat Islam sebenarnya hanya mengajarkan bagaimana hubungan seseorang dengan tuhan tetapi juga bagaimana hubungan dengan manusia yang lain. Kerangka dasar yang ada dalam Al-Qur’an seperti ini membawa maksud agar tercipta satu hubungan yang baik dan harmonis diantara sesama umat manusia. Dalam Islam sebenarnya konsep ini sudah dikenal luas, tetapi nampaknya Nurcholish Madjid ingin kebali menegaskan bahwa Islam mempunyai ajaran kemanusiaan yang luas dan ini harus disosialisasikan.
Dalam pandangan Nurcholish Madjid semua agama benar yang dibawa oleh para nabi dan rosul. Khususnya lagi yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan keturunanya mengajak umat manusia untuk mau berserah diri dengan sepenuh hati, tulus dan damai (bertaslim) kepada tuhan. Dia berani mengungkapkan kalimat bahwa Tidak ada tuhan selain tuhan itu sendiri, karena jika diartikan dengan tiadak tuhan selain Allah, seolah-olah ada pengakuan bahwa selain Allah ada lagi tuhan- tuhan yang lain, atau dilangit sana terdapat tuhan tuhan yang merebut kekuasaanya.Ia memeberikan konsep yang baru dalam menajiln hubungan seorang yang beriman dengan manusia yang lainya dengan membawa konsep perlunya mencari titik persamaan antara berbagai agama yang dikenal dengan “Kalimatun sawa”. Ia tidak mengharapkan perbedaan ekspresi keagamaan hubungan sesama manusia dimuka bumi ini menjadi retak dan sumber perpecahan.Dalam konsep tauhidnya benar menurut seseorang itu kebenaran realtif, kebenaran mutlak hanya milik yang maha kuasa yaitu Dzat Tuhan. Seseorang tidak dapat mengklaim bahwa apa yang menjadi pegangan orang lain salah. Karena kebenaran manusia adalah kebenaran relatif, bahkan juka ada yang mengklaim kebenaran mutlak selain kebenaran mutlak menurut tuhan ia telah terjerumus pada konsep politheis.
Pandangan yang dilontarkan beliau baru sebatas pada landasan Filosofis dan empiris. Namun sebenarnya selain landasan tadi ia juga memberi landasan Al-qur’an dan Al-hdits. Ia mengatakan bahwa iman merupakan tata nilai yang paling azasi ,paling mendasar yaitu tata nilai yang dijiwai oleh kesadaran hidup yang berasal dari tuhan dan menuju tuhan. Karena ketuhanan yang maha Esa adalah inti semua agama yang benar setiap pengelompokan (umat) manusia telah pernah mendapatkan ajaran tentang Ketuhanana Yang Maha Esa melalui para Rosul yang dipilih tuhan, karena itu sangatlah wajar jika dalam setiap agama manusia terdapa titik pertemuan (kalimatun Sawa) dan dalam Islam diperintahkan untuk mengembangkanya sebagai landasan hidup bersama.Menurutnya juga bahwa setiap manusia ( umat ) telah didatangi pengajaran kebenaran yaitu utusan atau rosul tuhan antara lain disebutkan dalam alqur’an (QS an-Nahl 16 :36, Al-ra’d 13 :7, Fatir 35 :24). Karena landasan seperti itu pencairan titik temu antar agama perlu dicairkan. Sebenarnya Kalimatun sawa yang berarti kalimat, ide atau prinsip yang sama yakni ajaran bersama yang menjadi “common Flatform” antar berbagai kelompok manusia. Allah juga memerintahkan kepada rasulnya Muhammad untuk mengajak komunitas keagamaan yang lain hususnya penganut kitab suci al Kitab (nasrani) untu bersatu mencari titik temu. (QS. Ali Imran 3 :64).

IV. ANALISA
Ide Pembaharuan Nurcholis Madjid ternyata banyak mendapat respon dari intelektual lainya, baik yang pro maupun yang kontra. Pada bagian ini penulis akan mencoba menganalisa gagasan beliau dan mencoba menampilkan paparan kaum intelektual lainya dalam mersepon gagasan Nurcholisah Madjid.
Ide-ide beliau tentang sekularisasi dalam bidang agama,sekularisasi dalam bidang Pendidikan dan gagasanya tentang kalimatun sawa adalah sebuah gagasan yang perlu diperhatikan pada masa-masa sekarang ini.Karena dirasakan seolah olah umat Islam merasa sudah cukup dengan pemahaman tentang keislamannya dan ide yang bersumber dari Barat tersebut walaupun nota bene non muslim patut kiranya untuk dipertimbangkan ,karena gagasan itu sedikit akan membuat umat islam berfikir lebih maju.Sekarang ini dirasakan umat Islam ketinggalan dari sisi Ilmu Pengetahuan dan tekhnologi. Tidak dikatakan salah,atau bertentangan dengan islam ketika umat islam merujuk kepada Barat dalam iptek tersebut .Diakui atau tidak Barat sekarang lebih unggul dari orang-orang timur tengah (masyarakat muslim) dari sisi Pengetahuan dan Teknologi.
Gagasan beliau tentang sekularisasai tersebut ternyata banyak yang memeberikan respon diantaranya Amin Rais mencoba memeberikan gambaran tentang sekularisasi yang dilontarkan Nurcholish madjid.Amin berpendapat bahwa segala bentuk aktifitas kemanusiaan harus didasarkan pada konsep tauhid yang benar.Amin Menolak seluruh pertentangan atau pemisahan dunia dan akhirat,tidak dapat dipisahkan antara yang pro dan yang sakral,imanen dan transenden,antara jiwa dan raga,antara agama dan negara. Dengan konsepnya seolah –olah menolak tentang gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid. Dalam Islam tidak dikenal berfikir kategoris,seluruh dimensi kehidupan mesti bertumpuh pada tauhid sebagai esensi dari ajaran Islam. (Amin rais,1993 :42).
Respon yang keras juga datang dari Ridwan Saidi, politisi yang prenah dijuluki kutu loncat menyerang gagasan Nurcholisah Madjid dan konsepnya tentang Kakimatun Sawa. Tetapi banyak pengamat yang meragukan ketulusan kriktiknya,karena antara keduanya pernah terjadi konplik pribadi tentang jabatan PB HMI. HM Rsyidy memncoba memahami pengertian sekularisasi dlama pendekatan sosiologis.Ia menyarankan sebaiknya kata-kata tersebut tidak usah dikatakan ,masih banyak kata-kata lain yang maknanya akan mengarah pada maksud yang disampaikan. Bahasa sekularisasi itu sudah menjadi bahasa barat yang bertendensi dan bermakana negatif.
Gugatan terhadap Nurcholisah Madjid sekalipun cukup santer dan banyak mendapat sorotan , gagasanya terus melaaju bagaikan bola salju. Gagasan itu terutama direspon oleh kalangan akademisi terutama mahsiswa IAIN dimana ia menjadi staf pengajarnya. Juga didukung oleh media masa dan elektronik yang sangat respek terhadap gagasanya itu (majalah Tempo). Dengan berbagai macam kritikan yang dilontarkan kepada beliau tidaklah membuatnya menjadi fesimis tetatapi justru beliau berkata “ Saya besar karena kritikan dan ekspos media massa,tanpa itu semua tidak mungkin saya bisa seperti sekarang ini.

V. KESIMPULAN
Nurcholis Madjid adalah pemikir muslim Indonesia kontemporer yang cukup menarik. Ia telah memberikan warna keislaman yang cukup elastis> Dalam bahasa lain ia adalah penerjemah ajaran Islam untuk kalangan menengah kea atas . sehingga dikalangan ini pemikiran beliau mendapat tempat. Ia mampu menerjemahkan ajaran Islam yang damai dan hanif, Ia menawarkan Islam sebagai agama yang membawa kedamaiaan bagi komunitas lainya.
Diakui atau tidak Cakrawala pemikiran beliau meresapi pemikiran keislaman di Indonesia, bahkan pemikiranya yang dulu dianggap ganjil perlahan –lahan dipakai umat Islam baik dalam kaitanya dengan politik Islam Indonesia atau tatanan kemasyarakatan.
Pemikiran Nurcholish madjid meskipun secara metodologis dipandang lemah terutama untuk kalangan bawah tetapi pada waktunya nanti akan menjadi rujukan bagi mereka dalam berfikir khususnya membangun Indonesia yang Multi Kompleks baik secara budaya,agama,bahasa dan adat istiadat.Termasuk juga pendapatnya tentang perlunya sekularisasi pendidikan Islam Indonesia.



VI. DAPTAR PUSTAKA
Fardoyo, Sekularisasi dalam Polemik,Temprint,Jakarta,1993.
M Syafi’i Anwar,Pemikiran dan Aksi Islam di Indonesia,Paramadina, Jakarta,155,h.5.
Madjid Nurcholish, Pintu-pintu menuju Tuhan, Paramadina, 1990 h.21
_______________ , Tradisi Islam,Paramadina,Jakarta, 1997,h.241.
Al-faruqi, Ismail Raji_1983. Hakekat Hijrah Strategi Dakwah Islam membangun tatanan duniaBaru. Terjemahan oleh Badri Saleh dari The Hijraj: The necessyty of isiqomat or vergegenwartigung. Mizan. Bandung.
__________and Lamya Al-Faruqi, 1986. The Cultural Atlas of Islam.
__________and Absullah Omar. 1981. Social and Natural Sciencis; the Islamic
Perspective. Hodder and Stonghton King Abdullah Aziz University Press.
Ahmed, Akbar S. 1993. Posmodernisme Bahaya dan Harapan bagi Islam. Bandung:
Milan
_________1988. Citra Islam, Terjemahan oleh Nunding dan Ramli yakkub dari
Discovering Islam, making Sence of Muslim History and Society. Surabaya:
Gelora Aksara Pratama.
Abdullah, Amin.1995. Filsafat Kalam di Era Post Modernisasi .Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Khalil Imanuddin. 1994. Pengantar Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Sejarah.
Jakarta Media Dakwah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar