Senin, 03 Januari 2011

Terorisme Dalam Perspektif Psikologi Agama

PENDAHULUAN
Aksi terorisme sekarang ini ,ternyata sudah mencapai tingkat keprihatinan. Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju bagian barat tetapi merambah pula kepada negara-negara berkembang seperti Indonesia.Peristiwa aksi teror bom termasuk didalamnya teror bom bunuh diri telah terjadi beberapa kali di Indonesia.Pemerintah Indonesia khususnya telah kewalahan menghadapi aksi teror bom ini, karena teror bom tersebut tidak hanya dilakukan oleh seseorang atau suatu kelompok tetapi sudah menjadi jaringan internasional. Akibat yang dilakukan dari aksi teror ini tidak hanya merugikan orang-orang lawannya tetapi orang-orang yang tidak bersalahpun menanggung akibat pahit dari aksi ini. Tidak hanya merugikan fisik materil tetapi juga nyawa manusia melayang yang jumlahnya tidak sedikit.
Aksi terorisme selama ini diperparah lagi jika dikaitkan dengan masalah fanatisme agama.Mereka yang melakukan aksi terorisme tersebut meyakini bahwa yang dia lakukan itu sebagai suatu jihad dan dibenarkan menurut keyakinan agama mereka.Beberapa kasus kita lihat aksi tersebut dikaitkan dengan keyakinan beragama khususnya agama Islam. Sebagian saudara kita meyakini bahwa aksi itu adalah merupakan jihad menurut persepsi dan keyakinan agama mereka yang dianutnya yaitu Islam.
Melihat fenomena terorisme di beberapa negara, sebenarnya terletak pada pandangan ideologisnya, yang cenderung melihat problem sosial, ekonomi, dan politik,bahkan menilainya sebagai satu-satunya cara yang paling ideal yang bisa diselesaikan dengan cara mengganti tatanan yang ada. Pandangan ideologis semacam itu akan tumbuh subur padamasyarakat yang mengalami “luka narsistik”.
Menurut Jerrold M Post, seorang guru besar psikologi politik di George Washington University, “luka narsistik” berpengaruh terhadap perilaku anarkis dan teror. “Luka narsistik” merupakan cermin dari budaya tidak terbuka terhadap kritik diri (self introspection). Sehingga pengidapnya terbiasa melihat kelemahan dirinya diakibatkan oleh orang lain. kemudian orang lain yang diidentifikasi sebagai penyebab itu akan ditetapkan sebagai musuh yang harus disingkirkan.

PEMBAHASAN
Agama dan Psikologi Agama
Agama berasal dari kata latin religio, yang dapat berarti obligation/kewajiban. Agama dalam Encyclopedia of Philosophy adalah kepercayaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak ilahi yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia (James Martineau)..Agama seseorang adalah ungkapan dari sikap akhirnya pada alam semesta, makna, dan tujuan singkat dari seluruh kesadarannya pada segala sesuatu, (Edward Caird) Agama hanyalah upaya mengungkapkan realitas sempurna tentang kebaikan melalui setiap aspek wujud kita (F.H Bradley). Agama adalah pengalaman dunia dalam seseorang tentang keTuhanan disertai keimanan dan peribadatan.
Jadi agama pertama-tama harus dipandang sebagai pengalaman dunia dalam individu yang mengsugestit esensi pengalaman semacam kesufian, karena kata Tuhan berarti sesuatu yang dirasakan sebagai supernatural, supersensible atau kekuatan diatas manusia. Hal ini lebih bersifat personal/pribadi yang merupakan proses psikologis seseorang
Yang kedua adalah adanya keimanan, yang sebenarnya intrinsik ada pada pengalaman dunia dalam seseorang. Kemudian efek dari adanya keimanan dan pengalaman dunia yaitu peribadatan. Tidak ada satupun definisi tentang agama (religion) yang dapat diterima secara umum, karena para filsuf, sosiolog, psikolog merumuskan agama menurut caranya masing-masing, menurut sebagian filsuf religion adalah ”Supertitious structure of incoheren metaphisical notion. Sebagian ahli sosiolog lebih senang menyebut religion sebagai ”collective expression of human values”. Para pengikut Karl Marx mendifinisikan Religion sebagai “the opiate of people”. Sebagian Psikolog menyimpulkan religion adalah mystical complex surrounding a projected superego” disini menjadi jelas bahwa tidak ada batasa tegas mengenai agama/religion yang mencakup berbagai fenomena religion.
Psikologi atau ilmu jiwa mempelajari manusia dengan memandangnya dari segi kejiwaan yang menjadi obyek ilmu jiwa yaitu manusia sebagai mahluk berhayat yang berbudi. Sebagai demikian, manusia tidak hanya sadar akan dunia disekitarnya dan akan dorongan alamiah yang ada padanya, tetapi ia juga menyadari kesadaranya itu , manusia mempunyai kesadaran diri ia menyadati dirinya sebagai pribadi, person yang sedang berkembang , yang menjalin hubungan dengan sesamanya manusia yang membangun tata ekonomi dan politik yang menciptakan kesenian, ilmu pengetahuan dan tehnik yang hidup bermoral dan beragama, sesuai dengan banyaknya dimensi kehidupan insani , psikologi dapat dibagi menjadi beberapa cabang
Kepercayaan dan pengamalannya sangat beragam antara tradisi yang utama dan usaha dalam mendifinisikan agama itu sendiri secara keseluruhan yang sempurna. Agama sendiri menurut bahasa latin berasal dari kata religio, yang dapat di artikan sebagai kewajiban atau ikatan .
Menurut Oxford English Dictionary, religion represent the human recognition of super human controlling power, and especially of a personal God or Gods entitle to obedience and worship, agama menghadirkan ‘ manusia yang kehidupannya di kontrol oleh sebuah kekuatan yang disebut Tuhan atau para dewa-dewa untuk patuh dan menyembahnya.
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama, dengan demikian psikologi agama mencakup 2 bidang kajian yang sama sekali berlainan , sehingga ia berbeda dari cabang psikologi lainnya.
Menurut Prof. Dr. Zakiah Darajat bahwa psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku tidak dapat dipisahkan dari keyakinannya, karena keyakinan itu masuk dalam kostruksi pribadi.
Pengertian dan Sejarah Terorisme
Terorisme memiliki sejarah yang panjang, artinya muncul dengan banyak faktor yang membentuknya. Sebab didalamnya menyangkut berbagai aspek keilmuan, dari sosiologi, kriminologi, politik, hukum, psikologi dan ilmu lainnya.(http://ubed-centre.blogspot.com). Zuhairi Misrowi (2002) mengemukakan bahwa Terorisme sebagai sebuah paham memang berbeda dengan kebanyakan paham yang tumbuh dan berkembang di dunia, baik dulu maupun yang mutakhir. Terorisme selalu identik dengan teror, kekerasan, ekstrimitas dan intimidasi. Para pelakunya biasa disebut sebagai teroris. Karena itu, terorisme sebagai paham yang identik dengan teror seringkali menimbulkan konsekuensi negatif bagi kemanusiaan. Terorisme kerap menjatuhkan korban kemanusiaan dalam jumlah yang tak terhitung. (Aksi Terorisme Melawan Agama dan Kemanusiaan. Zuhairi Misrowi, JIL, 2005)
Terorisme sendiri sebenarnya sudah berkembang berabad yang lalu. Aksi inipun dapat dirasakan dengan cara pembunuhan dan perusakan, tentunya untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam sejarah umat manusia teror sudah muncul dengan berbagai bentuknya. Terorpun berkembang mengikuti budaya dan pola strategi sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Kalau melihat istilah teror sendiri berkembang pertama kali dalam revolusi Perancis. Diakhir abad ke-19, awal abad ke-20 dan menjelang PD-II, terorisme menjadi teknik perjuangan revolusi. Misalnya, dalam rejim Stalin pada tahun 1930-an yang juga disebut ”pemerintahan teror”. Di era perang dingin, teror dikaitkan dengan ancaman senjata nuklir.
Kata Terorisme sendiri berasal dari Bahasa Prancis le terreur yang semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemerintah. Selanjutnya kata terorisme dipergunakan untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian kata terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah. Namun, istilah ”terorisme” sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintahan bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai ”teroris” dan aksi-aksi mereka disebut ”terorisme”. Istilah ”terorisme” jelas berkonotasi peyoratif, seperti istilah ”genosida” atau ”tirani”. Karena itu istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.
Perkembangan Terorisme
Terorisme muncul pada akhir abad 19 dan menjelang terjadinya Perang Dunia-I, terjadi hampir di seluruh belahan dunia. Pada pertengahan abad ke-19, Terorisme mulai banyak dilakukan di Eropa Barat, Rusia dan Amerika. Mereka percaya bahwa Terorisme adalah cara yang paling efektif untuk melakukan revolusi politik maupun sosial, dengan cara membunuh orang-orang yang berpengaruh.Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair di tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan
publisitas.(http://mediaislam.myblogrepublika.com/teror-akar-sejarah-dan-perkembangannya)
Teror dimasa sekarang lebih dirasakan fenomenanya oleh masyarakat luas. Secara sosial tentunya mengikuti perkembangan umat manusia dengan segala situasi yang mendukungnya. Apalagi dengan berkembangnya persaingan ekonomi, perdagangan dan era globalisasi yang membuka banyak peluang bagi negara-negara besar dalam menancapkan pengaruhnya. Proses globalisasi dan budaya massa menjadi lahan subur perkembangan terorisme. Kemudahan menciptakan ketakutan dengan teknologi tinggi dan liputan media yang luas membuat jaringan dan tindakan teror semakin mencapai tujuan. .(http://www.eramuslim.com/berita/analisa/teror-akar-sejarah-dan perkembangannya.htm).
Tindakan Kejahatan Terorisme
Dalam beberapa dasawarsa, banyak analis dan kalangan intelektual mencoba menyibak latar belakang dan sebab-musabab mengapa seseorang “terjebak” dalam kejahatan terorisme. Kalangan awam Barat menilai, penyebab atau pemicu dominan dari kejahatan terorisme adalah ideologi, agama atau kepercayaan yang dianut. Kata ideologi tersebut, secara spesifik menunjuk Islam sebagai satu-satunya ideologi yang potensial menghasilkan teroris.
Tentu saja, asumsi diatas terlalu berlebihan dan hanya mencerminkan Islamophobia yang berlebihan. Nyatanya, tingkat ketaatan seorang pemeluk Islam terhadap ajaran Islam tidak berbanding lurus aktivitas terorisme.
Di sisi lain, bagi kalangan terpelajar, tindakan terorisme tercipta karena adanya banyak faktor. Mereka meyakini, terorisme terjadi karena adanya akumulasi antara fanatisme agama, kemiskinan dan pengangguran. Meski lebih masuk akal, tetapi analisis ini hanya tepat dalam kasus terorisme sebelum peristiwa 11 September.Setelah peristiwa 11 September, para cendekiawan tak lagi mampu mempertahankan pandangan konvensionalnya. Pemicu (trigger) kejahatan terorisme menjadi bertambah kompleks.
Dengan merunut pelbagai kejadian terorisme di belahan dunia, para pakar berkesimpulan ada beberapa sebab yang melatarbelakangi aksi terorisme, yaitu:
- sebab psikologis, terjadi dalam kasus dimana pelaku teror mengalami gangguan kejiwaan (abnormal), labil dan broken home
- sebab sosiologis, ketika pelaku berlatar belakang kurang pendidikan, terkucil dari lingkungan
- sebab ekonomi, saat pelaku merupakan pengangguran atau dari keluarga menengah ke bawah
- sebab politis, terjadi ketika berupaya menolak sebuah rezim dan menolak terjaminnya hak asasi manusia
- sebab agamis aangan maju (kolot)
- Akumulasi sebab-sebab diatas akan berjalan efektif memicu perilaku teror.
Pernyataan tersebut menemukan pembenarnya jika kita menilik kejadian bom JW Marriot dan Ritz-Carlton jilid kedua, dimana sebab psikologis dan ideologis memegang peranan penting sehingga pelaku pengeboman mempunyai keberanian untuk menjalankan aksi kejinya. Sebagaimana analisis para psikolog yang dilansir media massa, secara psikologis, remaja antara 17-25 tahun relatif labil dan belum mampu memutuskan sesuatu dengan tepat dan bijak. Kondisi inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mencuci otak dengan mengindoktrinasikan pemahaman keagamaan yang literalistik, kaku dan konfrontatif.
Fakta ini dengan sendirinya menepis dan meruntuhkan prasangka beberapa kalangan di Barat yang menyatakan bahwa Islam sendiri yang sesungguhnya menjadi sebab bagi terjadinya aksi teror. Pernyataan Islam identik dengan kekerasan pernah disampaikan oleh Sam Haris dalam sebuah essainya yang berjudul Mired in a Religious War yang dimuat di Washington Times. Begitu pula dikatakan oleh Lawrence Auster.
Jika benar apa yang diprihatinkan oleh Sam Haris dan Lawrence Auster, maka sesunggguhnya yang terjadi adalah penyalahgunaan agama beserta nomenklatur didalamnya oleh pemeluknya untuk melakukan teror. Seperti terma “jihad” yang dimaknai secara salah dan kaku sehingga identik dengan kekerasan dan terorisme.
Beban Psikologis
Menurut Jerrold M Post, seorang guru besar psikologi politik di George Washington University, “luka narsistik” berpengaruh terhadap perilaku anarkis dan teror. Psikologi yang terbelah yang dicerminkan dari sikap selalu melihat kesalahan diakibatkan oleh pihak lain—bukan dirinya—berdampak pada arogansi dan merasa selalu paling benar ketika berhadapan dengan pihak lain.“Luka narsistik” merupakan cermin dari budaya tidak terbuka terhadap kritik diri (self introspection). Sehingga pengidapnya terbiasa melihat kelemahan dirinya diakibatkan oleh orang lain. kemudian orang lain yang diidentifikasi sebagai penyebab itu akan ditetapkan sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Pada masyarakat yang mitologis, di mana realitas masih dijelaskan dengan perspektif mitos, “luka narsistik” ini mudah tumbuh. Absennya rasionalitas kritis terhadap fenomena di sekitarnya akan berdampak pada simplifikasi bahwa segala peristiwa digerakkan oleh sesuatu di luar manusia. Jadi kekurangan diri pun akan dipahami bukan sebagai kesalahan dirisendiri, melainkan disebabkan oleh pihak lain. Relasi hamba dan Tuhan dalam masyarakat mitologis tidak berarti Tuhan dituding sebagai pihak yang bersalah. Tuhan tetap dianggap sebagai sosok yang agung. Tetapi keagungan Tuhan dan penghambaan kepada Tuhan itu menggambarkan relasi antara “sosok kuat” dan “lemah” yang cenderung negative.
Sehingga dalam konteks yang berbeda masyarakat senantiasa menuduh ada kekuatan jahat yang mengganggu jika ada anggota mereka yang sakit atau terjadinya bencana alam.
“Luka narsistik” menggambarkan adanya problem paradigma yang berefek pada psikologi manusia. Dalam masyarakat beragama kecenderungan menuduh umat agama lain sebagai sumber kerusakan merupakan cermin dari paradigma narsistik. Dengan paradigma bahwa semua yang berasal dari “kelompok saya” merepresentasikan kebenaran, sedangkan pada kelompok lain merepresentasikan hal sebaliknya, masyarakat terbiasa menyalahkan pihaklain, dan memandang kelompok sendiri sebagai serba sempurna.
Atas dasar itu, penyembuhan “luka narsistik” bisa disembuhkan sepanjang paradigma klaim kebenaran kelompok sendiri dieliminasi. Sejatinya, umat beragama dan masyarakat umumnya mulai belajar untuk bersikap bijaksana dalam memandang relasi antara “kita” dan “mereka”.
Islam Memandang Terorisme
Jika ada pertanyaan, bagaimanakah Islam memandang perbuatan terorisme? Jika terorisme dimaksudkan sebagai tindakan yang memiliki elemen-elemen seperti, kekerasan, tujuan spesifik, baik sosial maupun politik dan teror, sudah tentu Islam tidak akan menolerirnya.
Satu hal yang pasti, “terorisme” dalam hukum konvensional tidak bisa dipadankan dengan “jihad” yang menjadi salah satu ajaran Islam. Meski beberapa kalangan mencoba untuk memaksakan sinonimitas di antara keduanya. Oleh kalangan yang mengalami Islamophobia, terorisme diidentikkan dengan jihad. Sedang oleh kalangan skripturalis, konsep jihad seringkali dipakai untuk menjustifikasi perilaku teror mereka yang sesungguhnya tidak memiliki kaitan sama sekali dengan agama. Justru hanya untuk menjamin keberhasilan mereka merengkuh tujuan.
Bila mencermati ajaran Islam, ada beberapa argumentasi yang kerap dipakai kalangan pelaku teror sebagai tameng bagi tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
Pertama, ayat
ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون
.
Kedua, apa yang dikenal sebagai ayat pedang,
فإذا انسلخ الاشهر الحرم فاقتلوا المشركين حيث وجدتموهم وخذوهم واحصروهم واقعدوا لهم كل مرصد، فإن تابوا وأقاموا الصلاة وأتوا الزكاة فخلوا سبيلهم، ان الله غفور رحيم .
Sebagaimana disebutkan oleh Jalaluddin al-Suyuthi bahwasanya ayat yang pertama tidak berlaku umum. Melainkan ditujukan untuk kaum Yahudi. Bahkan, masih disampaikan oleh al-Suyuthi, kata “kafir” dalam ayat tersebut tidak sebagaimana dipahami biasanya.
Dalam ayat kedua, al-Qurthubi menjelaskan, ayat tersebut tidak boleh dipenggal dengan hanya menonjolkan perintah memerangi (membunuh) orang musyrik. Tapi harus dipahami secara utuh sebagai sebuah kesatuan ayat.
Berkenaan dengan konsep jihad, Islam telah memberikan batasan dengan ketat. Bagi Islam, sifat dasar jihad adalah pembelaan diri atas kehormatan harga diri umat Islam. Bukan untuk menebar teror dan kebencian bagi warga sipil. Dalam khazanah fikih, jihad yang merupakan kewajiban komunal (fardh al-kifayah), bukan kewajiban personal (fardh al-‘ayn) memiliki prasyarat yang sangat ketat. Salah satunya adalah bahwa jihad hanya dapat terlaksana setelah kepala pemerintahan memberikan perintah untuk jihad. Sayangnya, syarat ini selalu dilupakan oleh para pelaku teror yang menganggap aksi terornya sebagai salah satu bentuk jihad. Syarat kedua, pelaksanaan jihad baru bisa dilaksanakan setelah adanya peringatan terhadap pihak lawan.





KESIMPULAN
Psikologi agama merupakan bagian dari psikologi yang mempelajari masalah-masalah kejiwaan yang ada sangkut pautnya dengan keyakinan beragama.Psikologi agama meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan tingkah laku orang atau mekanisne yang bekerja dalam diri seseorang, karena cara seseorang berpikir, bersikap, bereaksi dan bertingkah laku. Menurut Jerrold M Post, seorang guru besar psikologi politik di George Washington University, “luka narsistik” berpengaruh terhadap perilaku anarkis dan teror. Psikologi yang terbelah yang dicerminkan dari sikap selalu melihat kesalahan diakibatkan oleh pihak lain—bukan dirinya—berdampak pada arogansi dan merasa selalu paling benar ketika berhadapan dengan pihak lain.“Luka narsistik” merupakan cermin dari budaya tidak terbuka terhadap kritik diri (self introspection). Sehingga pengidapnya terbiasa melihat kelemahan dirinya diakibatkan oleh orang lain. kemudian orang lain yang diidentifikasi sebagai penyebab itu akan ditetapkan sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Dengan melihat beberapa kejadian terorisme di belahan dunia, para pakar berkesimpulan ada beberapa sebab yang melatarbelakangi aksi terorisme, yaitu:
- sebab psikologis, terjadi dalam kasus dimana pelaku teror mengalami gangguan kejiwaan (abnormal), labil dan broken home
- sebab sosiologis, ketika pelaku berlatar belakang kurang pendidikan, terkucil dari lingkungan
- sebab ekonomi, saat pelaku merupakan pengangguran atau dari keluarga menengah ke bawah
- sebab politis, terjadi ketika berupaya menolak sebuah rezim dan menolak terjaminnya hak asasi manusia
- sebab agamis aangan maju (kolot)
- Akumulasi sebab-sebab diatas akan berjalan efektif memicu perilaku teror.
Pernyataan tersebut menemukan pembenarnya jika kita menilik kejadian bom JWp

Daftar Pustaka

- Esposito, John. L dan Dalia Mogahed. 2008. Who Speaks for Islam. (New York: Gallup Press)
- Ibn Hazm. Tt. Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa al-Nihal. (Beirut: Dar al-Jayl)
- Ibn Kamuna, Sa’d ibn Manshur. 1967. Examination of The Inquiries into The Three Faiths. (Berkeley and Los Angeles: University of California Press )
- Al-Suyuthi, Jalaluddin. 2003. al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur. (Cairo: Markaz Hajar li al-Buhuts wa al-Dirasat al-‘Arabiyah wa al-Islamiyah)
- Al-Qurthubi. 2006. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. (Beirut: al-Resalah Publisher)
- Zuhayli, Wahbah. 1985. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. (Damaskus: Dar al-Fikr)













TERORISME
DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI AGAMA

Makalah ini diajukan sebagai tugas pada
mata kuliah : Psikologi Agama

Dosen Pengampu :
Dr. H. Sumanta, M.Ag.











Disusun oleh:

ABDUL KHOLIK
NIM 505920035


KONSENTRASI : PSIKOLOGI PENDIDIKAN ISLAM
SEMESTER-1I


PROGAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar